short story: temanku cintaku

“Aku masih sulit untuk percaya kalau orang yang ada di pelukanku sekarang ini adalah kamu, sahabatku sendiri”, Galih mengatakannya dengan sedikit tertawa getir.

“Sama. Aku juga nggak pernah kepikiran dan nggak nyangka banget kalau kedekatan kita selama dua tahun ini bisa berujung menjadi seperti ini...”

Malam itu kurasakan pelukannya yang hangat seperti pada malam pertama dia memelukku....


Saat itu kami yang baru saja saling berterus terang atas perasaan kami, duduk di teras depan rumahku. Memang terasa lega dan bahagia, namun dibalik itu semua ada perasaan menyesal dan bersedih karena tidak seharusnya hal tersebut yang kami ucapkan.

Malam itu adalah malam pertama kalinya Galih menggenggam tanganku. Sebenarnya kami pernah bergenggaman tangan, hanya saja tidak lebih dari genggaman tangan dua orang teman dekat. Dia membantuku turun dari tembok sekolah yang kami panjat bersama untuk kabur setahun yang lalu. Namun malam itu sungguh berbeda. Genggaman tangannya menunjukkan bahwa kami berdua kini lebih dari sekedar teman dekat. Terdapat kenyamanan dan kasih sayang diantara kami.

“Jangan seperti ini, nanti aku bakalan lebih sulit lagi untuk melepas kamu....” ucapku.

Aku tahu dia mendengarnya, tapi dia malah menggenggam tanganku lebih erat lagi.

“Aku sayang sama kamu, Ndre..” dia mengatakannya dengan raut sedih di wajahnya.

“Iya…”, aku tidak bisa berkata lebih banyak lagi. Kata-kata cinta malah akan membuat hatiku lebih tersayat-sayat nantinya. Biarpun kami menjalin hubungan spesial tanpa status ini baru berjalan tiga hari, namun kedekatan yang kami bina selama dua tahun belakangan ini sudah menjalin ikatan perasaan yang cukup kuat diantara kami. Waktu selama itu cukup untuk mengenal pribadi kami masing-masing dan menumbuhkan perasaan cinta diantara kami berdua.

“mungkin memang salahku, menginginkanmu disaat kamu sudah ada yang memiliki....” Galih mendengarnya dengan tatapan sedih terpancar dari matanya.

“jangan salahin diri kamu sendiri, Andrea sayang. Ini bukan salah kamu. Kita nggak bisa nyalahin perasaan kita yang seperti ini. Mungkin kalau harus ada yang disalahkan, orang itu seharusnya aku, karena aku yang sudah menarik kamu dikehidupanku yang bisa dibilang nggak sendiri lagi. Tapi perasaan aku ini nggak bisa dibohongin Ndre, aku benar-benar mencintai kamu, bahkan lebih dari dia.” Galih mengatakannya sambil meletakkan telunjuknya di bibirku.


Seminggu pun berlalu, dan kami masih menjalani hari-hari seperti sudah terjadwal. Pagi hari Galih menunggui kekasihnya datang ke sekolah. Jam istirahat, Galih pun menghabiskannya dengan kekasihnya itu. Siang dan sore hari, masih bersama kekasihnya untuk mengikuti bimbingan belajar atau kegiatan lain. Baru pada saat malam hari, dia memberikan sisa waktunya untukku. Entah itu adalah waktu dimana aku baru bisa berhubungan dengannya melalui pesan singkat dan telepon, atau terkadang dia menyempatkan diri untuk datang ke rumahku. Malam itu dia bilang padaku lewat pesan singkat bahwa ia merasa lelah dan letih menjalani kesibukannya seharian tadi, maka aku menyuruhnya untuk langsung pulang dan tidur. Dan jawaban yang aku terima seperti ini:

“lihat keluar deh, bintangnya bagus.”

Maka aku pun terkekeh sedikit. Masih sempat-sempatnya dia memperhatikan bintang-bintang disaat badan sudah tak sanggup untuk bergerak lagi. Penasaran, aku pun keluar rumah untuk melihat langit. Kecewanya aku, ternyata langit sama sekali tidak terlihat cerah dari rumahku. Tetapi, ada pancaran kebahagiaan lain di depan pagar rumahku. Galih ternyata sudah berdiri disana.


Setelah bercakap-cakap sedikit, akhirnya dia masuk ke pokok pembicaraan, sebuah alasan yang membawanya datang kesini, padahal seharusnya ia sudah beristirahat dirumah.

“Kita nggak bisa dan boleh seperti gini terus..” suaranya terdengar parau.

“…. Aku tahu.... Jadi kapan kita akan berakhir dari situasi seperti ini?”

“Secepatnya….” pancaran mata Galih terlihat kosong.

“Sekarang?” jantungku berdebar kencang, suaraku bergetar karna ketakutan.

“Tapi aku belum siap untuk kehilangan kamu” Galih mengatakannya secepat kilat.

“Kamu harus kuat. Demi aku, demi kamu juga. Demi kita.” Air mataku sudah hampir tumpah dari balik pelupuk mataku. Topeng munafik pun terlihat sudah di wajahku.

Galih menarikku ke dalam pelukannya. Kudengar hembusan nafas panjang dari hidung dan mulutnya berkali-kali.

“I love you, Andrea....” dan dia memelukku semakin erat.



Keesokan harinya, kami hanya melemparkan senyum saat bertemu pandang. Memang seperti hari-hari sebelumnya, kami tidak pernah bisa melampiaskan rasa sayang kami di depan orang lain. Namun kali ini perasaan itu terasa semakin kuat, seakan-akan ada yang ingin mengoyak tubuhku dari dalam. Perasaan seperti tertahan dan tertekan. Aku sangat tidak menyukai perasaan seperti itu. Aku pun cepat-cepat berjalan menjauhinya. Hatiku semakin sakit jika terus berada di sekitarnya tanpa bisa memilikinya ataupun hanya untuk mendekatinya.

Satu minggu telah berlalu. Kami dipertemukan lagi di sebuah acara sekolah. Sebuah kebetulan, kami bertemu di ruang dibelakang panggung dimana tidak ada orang lain selain aku dan Galih. Tubuhku kaku seketika, tidak tahu apa yang harus ku perbuat. Aku ragu untuk menyapa, tetapi sudah terlanjur terlihat olehnya. Tenggorokanku tercekat tidak bisa mengeluarkan sepercik kata pun, sampai kulihat dia berlari dan memelukku.

“Ga-galih..! k-kalo ada yang liat gimm-mana??”

“Aku nggak bisa Ndre, aku nggak bisa jauh dari kamu....”

“Stop, Galih.” Aku melepaskan diri dari pelukannya. Beruntung tidak ada yang melihat. Suasana pun hening.

“Kamu harus coba, Galih, kita harus coba. Ini belum seberapa kan? Ayo Galih, aku tau kamu bisa....” aku pun pergi meninggalkannya dan berbaur dengan teman-temanku.



Sepulangnya aku di rumah, aku mendapati pesan singkat dari Galih yang berisi:

“Maaf, karena aku sudah menarik kamu masuk kedalam hidupku dan membebani kamu. Maaf kalau aku selalu menyusahkan kamu. Maaf atas perbuatanku yang selalu bodoh dan nggak bertanggung jawab. Dan terimakasih, atas waktu yang sudah kamu berikan untukku. Terima kasih atas perhatian kamu selama ini. Makasih karena kamu sudah tulus buat sayang sama aku, biarpun kamu tahu aku sudah ada yang memiliki... Kalau boleh aku memohon, tetap jadi Andrea yang kukenal ya. Aku sayang kamu, Andrea. Sincerely, Galih”

Sontak aku berteriak-teriak sambil mengeluarkan air mata. Kututupi wajahku dengan bantal agar teriakanku tidak terdengar oleh keluargaku dan tetanggaku. Perasaanku carut marut. Aku berteriak terus, tanpa ada sepatah kata yang terucap. Hanya teriakan.

Saat teriakanku mereda, aku pun sesunggukan dalam tangisan.

“Bukan hanya kamu yang sakit, Galih, bukan hanya kamu yang ingin terus bersama, Galih, bukan hanya kamu yang harus menderita karna harus menahan perasaan, Galih, bukan hanya kamu… Aku disini juga merasakan yang sama, aku sungguh-sungguh sayang sama kamu. Aku mau kamu. Aku nggak mau berpisah dari kamu. Aku tersiksa menahan perasaan ini, Galih. Tapi mungkin memang ini jalan yang harus kita lalui, jalan yang terbaik. Aku harus merelakan orang yang aku sayangi.…”

“Maafku juga untukmu. Terimakasihku juga lebih lagi. Kamu baik-baik ya sama dia.... I love you too, as friend....”

Setelah pesanku terkirim, aku langsung menonaktifkan ponselku dan membenamkan wajahku dalam-dalam ke bantal. Aku bersiap untuk hari esok, hari-hari baru yang akan kulalui. Ya, aku akan memperbarui semuanya, memulainya dari awal lagi.



***
Tidak terasa bertahun-tahun telah berlalu. Aku menarik nafas dalam-dalam, merasakannya melewati tenggorokanku, masuk ke paru-paruku dan menghembuskannya keluar dari hidung dengan perlahan. Sebuah perasaan lega yang kusadari sudah lama tidak aku rasakan dalam beberapa tahun terakhir.

Kubuka kembali album foto milikku. Terpasang foto diriku dan teman-temanku sedang mengenakan kebaya dan memegang medali kelulusan dari sekolah. Dibawah foto itu terpasang juga foto temanku yang sedang menangis sambil memelukku. Aku tertawa kecil melihatnya. Di halaman sebelahnya terdapat halaman album yang masih kosong. Aku merogoh isi tasku dan mengambil selembar foto disana, kemudian kupasang foto tersebut. Sebuah kenangan, seorang gadis remaja yang baru masuk sekolah, dengan menggunakan seragam, sedang tertawa lepas di rangkulan seorang remaja laki-laki yang sebaya dengannya. Laki-laki tersebut juga mengenakan seragam sekolah sebagai murid baru. Aku tersenyum memandanginya. Teringat sungguh banyak hal yang sudah terjadi selama tiga tahun terakhir masa SMA-ku, terutama di tahun ketiga, sangatlah berkesan.

Semenjak saat itu Galih sedikit menjauh dariku. Dia terlihat lebih mendekatkan diri dengan pacarnya, melampiaskan seluruh waktunya untuk kekasihnya. Aku pun juga menyibukkan diriku dengan belajar dan mempersiapkan diri untuk masuk ke perguruan tinggi. Tidak sia-sia, aku pun mendapatkan beasiswa untuk belajar di luar negeri. Dan saat ini, aku sedang berada di pesawat untuk kembali ke rumahku dalam masa liburan kuliahku. Memang, ada rasa sedih yang kurasakan, kehilangan seorang teman dekat yang sangat berarti untukku. Namun aku juga merasa lega, karena setelah setahun ini aku pun akhirnya bisa menganggapnya tidak lebih dari teman dekat biasa saja, seperti kami saat sedia kala. Sesampainya di bandara, senyumku semakin mengembang lagi disaat ponselku bergetar, meninggalkan pesan singkat di layarku.

“hei sobat lama! Apakabar? Gimana kalau aku kasih tumpangan gratis, dengan bayaran cerita seru yang harus kamu ceritakan ke aku di rumah nanti?”

Aku menoleh ke sekelilingku, dan mendapati teman lamaku berdiri dan melambaikan tangan dari balik pintu kaca. Galih. Dia tersenyum. Hatiku tidak mau kalah, aku merasa sangat gembira karena sampai sekarang kami masih bisa menjalin hubungan baik sebagai teman, dan selamanya akan selalu menjadi teman.

6 comments:

  1. wah, ini mah kayanya berdasarkan kejadian nyata. ahahha. mantep, del! keep it up!!! XDDD

    ReplyDelete
  2. haha iya emang , kisah nyata yang dijadikan inspirasi , tapi tetep aja ini fiksi , hehehe
    thanks mondaaaa :)

    ReplyDelete
  3. keren del, gua kasi jempol like this deh, hehehe..
    tapi terlalu pendek ceritanya del, coba dipanjangin lagi pasti lebih seruu. hehehe :D

    ReplyDelete
  4. ow ow ow kalo panjang nanti jadi novel dong , haha nanti kapan-kapan gw coba bikin cerbung deh ya hehehe
    makasi hanna :)

    ReplyDelete
  5. President...
    wakil President...
    Mentri Luar Negri...
    Mentri Pendidikan...
    Mentri kebudayaan...
    Mentri keuangan...
    Mentri keamanaan...
    Mentri Kesehatan...
    Bupati...
    Pak Camat...beserta keluarga
    Pak RT...
    Pak RW...
    warga kampung...
    Pak Guru...
    Bu Guru...
    tukang sapu...
    penjual siomay depan skolah...
    Bang Ucup...
    Bang toyib...
    Juleha...
    Acong...
    Maimunah...
    jajaran dosen-dosen...
    Mahasiswi yang cantik2...
    mahasiswa yang macho2...
    tukang parkir...
    pengamen lampu merah...
    TNI...
    AU...
    AD...
    petugas bandara...
    petugas kereta api...
    teman-teman sekelas...
    teman-teman bermain...
    teman-temain berimajinasi...
    saudara sedarah...
    saudarah setanah air...
    pasukan pengibar bendera...
    dokter beserta komplotannya...
    tukang jagal...
    tukang gali kubur...
    algojo...
    preman pasar ikan...
    semua alay di muka bumi...
    pengemis...
    banci lampu merah dengan bassnya yang yahud....
    pedangdut...
    rocker...
    artis kelas teri..
    artis kelas ikan paus...
    kasir indomaret...
    kasir alfamaret...
    tukang parkir SMA 2 Solo...
    mas jualan pulsa depan rumah gue...
    abang ketropak depan jembtan layang matraman...
    sekeruti Gramedia matraman...
    pakde...
    bude...
    Om...
    Tante...
    encang...
    encing...
    abah...
    emak...
    si Toing...
    si Toang(adeknya Toing)...
    Ucok...
    penjual sate langganan gue...
    tukang rongsokan...
    petugas pom bensin...
    pakle...
    bule...
    sepupu...
    kakek...
    nenek juga pastinya...
    dan SAYA...
    ::
    MENYUKAI CERITA INI

    ReplyDelete
  6. waaaaa makasi banget sayangkuuu heheheh :')
    sempet heran ini komennya kenapa heheheh makasi yaaaa :* :*

    ReplyDelete

leave your message here: