Aku senang berada di dalam pikiranku sendiri. Berbicara dengan diriku sendiri dari balik benakku, berargumentasi atau berdebat di dalam kepalaku. Selama ini tidak ada yang bisa menyangkal atau tidak setuju dengan apa yang aku ucapkan. Tidak ada yang dapat mengomentari apa yang aku inginkan. Aku bebas disini. Sendirian.
***
Sore yang cerah, aku keluar dari kamar kos untuk menghirup udasra segar sambil berjalan berkeliling. Melewati perempatan jalan yang gersang, pertokoan yang nyaris tutup karena tidak banyak pembeli yang datang dan anak-anak yang sedang bermain futsal di lapangan rumput kecil di sebelah rumah tua. Aku tinggal seorang diri di sebuah kos di satu kota yang jumlah penduduknya bisa dibilang sedikit. Hanya jika cuaca cerah seperti sore ini baru terlihat bahwa daerah ini benar-benar hidup. Tidak ada yang berani melewati jalan raya seorang diri di kotaku jika hari sudah mulai gelap, biarpun itu adalah jalan raya. Karena terkadang jalan raya saja bisa terlihat seperti gang sempit gelap di sebelah kuburan jika sudah malam hari. Tidak banyak orang yang berani keluar rumah apabila hari sudah gelap.
Aku terus berjalan berkeliling. Menikmati suasana kota yang jarang terlihat ramai. Aku melewati sebuah taman dengan ditumbuhi banyak pohon rindang dan kolam ikan yang tidak ada ikannya. Taman ini biasa dipakai oleh para pecinta apalagi jika hari sedang cerah. Mereka keluar dan berkumpul disini untuk melampiaskan cinta dan kerinduan terhadap pasangannya. Kulihat beberapa pasangan yang bercanda mesra, cekikikan, cubit-cubitan, dan ada juga pasangan yang tanpa malu berpelukan erat di balik bayangan kursi taman. Wajar saja, tidak ada yang peduli apa yang mereka lakukan disini. Orang-orang di kota ini sudah terlanjur hidup dalam kesendirian dan keterasingan sehingga mereka tidak perlu repot-repot untuk mengurusi siapa saja yang bukan menyangkut diri mereka sendiri.
Aku mulai berbicara sendiri di kepalaku “Ah, nggak asik. Perusak mood. Sedang bahagianya jalan-jalan malah ketemu pemandangan yang seperti ini. Lebih baik aku cepat-cepat pergi dari sini. Cari pemandangan lain yang lebih seru.”
Kemudian sepanjang jalanku aku melihat seorang nenek yang menggotong belanjaannya yang kelihatannya berat dan beberapa anak kecil yang tertawa meledek di belakangnya.
“Kasihan. Tapi ya sudahlah, bukan urusanku juga. Anak-anak itu seharusnya berhenti tertawa dan lebih baik pulang kerumah, mandi dan tidur.”
Aku terus berjalan sampai akhirnya kembali ke depan kos-ku. Seorang pria muda yang tinggal di seberang kos ku menyapa dengan senyum tengilnya “sudah pulang neng?”
Aku hanya tersenyum kecil yang nyaris tidak terlihat sambil menutup gerbang. “Dia lagi dia lagi. Kenapa sih nggak ada henti-hentinya menggangguku? Kemarin dia 'mejeng' di depan pintu pagar, tadi pagi dia mondar-mandir di depan kos, sekarang baru berani nyapa. Mending enak dilihat, tengil banget sih! Pakai kek tuh baju, boxer doang yang nempel di badan! Ihh”
Sebenarnya jika boleh memilih, aku tidak ingin tinggal di kos yang bertetangga dengan mas-mas genit yang kerjaannya siang malam dihabiskan hanya untuk menggoda gadis-gadis yang lewat. Karena sudah jarang gadis yang lewat disini, maka akulah yang jadi sasarannya. Sungguh sangat tidak menyenangkan. Tapi apa boleh buat, aku butuh ketenangan. Masa laluku di kota besar sangat membuatku stres dan sakit hati. Aku pun pergi mencari tempat tinggal baru yang dapat memberikanku ketenangan dan membantuku melupakan masa laluku yang pahit.
***
Waktu itu aku baru saja merayakan kelulusan SMA bersama teman-temanku, konvoi motor dan mencorat-coret baju seragam dengan pilox. Pacarku juga ada disana. Karena tidak terasa, aku berjalan terlalu lambat dan tertinggal dari teman-temanku jauh di belakang. Mereka pun menungguku di salah satu pom bensin di jalan itu. Tetapi tiba-tiba pom bensin itu meledak. Api berkobar dan terdengar suara ledakan yang sangat kencang. Aku syok dan pingsan di tempat. Saat aku terbangun, aku sudah berada di rumah sakit dengan beberapa guru dan orang tua temanku di sekelilingku, tetapi kulihat tidak ada wajah teman-teman yang ku kenal. Mereka berpelukan, menangis sesunggukan, dan ada yang sampai terkulai lemas di lantai. Aku bingung dan berjalan ke sekitar untuk mencari teman-temanku. Aku melihat mereka tergeletak di satu ruangan dengan kain menutupi badan dan wajah mereka. Teman-temanku yang kusayang, sekarang telah tiada. Aku kalap, menangis sejadi-jadinya dengan nada yang berantakan.
Kejadian itu berlalu begitu cepat. Tidak terasa hanya aku yang selamat. Sejak saat itu berat badanku turun sembilan kilogram dalam waktu hanya dua minggu. Aku berusaha mencari keberadaan pacarku, karena namanya tidak tercantum dimana-mana. Di daftar korban jiwa, ataupun korban luka-luka. Tempat kejadian perkara juga sudah diperiksa dan diteliti, tapi tidak ada korban lain yang ditemukan. Pacarku menghilang.
Lelah karena sudah berjalan-jalan sore tadi, tanpa sadar kenangan masa lalu yang kuingat barusan membuatku mengantuk dan tertidur. Sayup-sayup kudengar suara pintu pagar kos terbuka dan tertutup kembali. Seiring dengan kelopak mataku yang tertutup perlahan.
Tidak banyak yang kukenal di kota ini, tidak seperti saat aku masih tinggal di kota besar. Hampir semua penduduk dalam ruang lingkup satu kecamatan aku kenal. Tapi disini, yang kukenal hanyalah ibu pemilik kos, ibu penjual sayur keliling yang menjadi langganan ibu pemilik kos, penjaga toko minuman di pinggir jalan karena aku suka duduk berlama-lama disana, dan mas-mas tengil yang tinggal di seberang kosku.
Suara tawa ibu kos yang lantang membangunkan tidur nyenyakku. “Aduuuuuhhh ketawanya ga bisa dipelanin sedikit apa yaa? Ganggu orang tidur aja sih.”
“lebih baik bangun, hari sudah siang loh”
Apa? Apa yang barusan tadi? Aku mendengar suara. Seseorang berbicara. Laki-laki. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Aku kan hanya sendiri disini, mana mungkin bisa ada suara orang lain berbicara disini.
Aku pun pergi mandi dan menonton dvd yang kupilih dengan asal.
“diluar cuacanya bagus.”
Suara itu lagi. Mungkin aku sudah gila. Kenangan pahit dari masa laluku ternyata belum sepenuhnya pulih.
Tetapi suara itu masih tetap terdengar. Kali ini suara itu tertawa kecil.
“Semalam aku makan apa sih? Jadi pusing begini deh. Mungkin aku memang sudah benar-benar hilang waras. Baguslah.”
Selesai satu film, aku mencari film lainnya. Saat sedang mengacak-acak koleksi dvdku, aku mendengar suara barang terjatuh di kamar kos sebelah.
“Siapa ya? Aku 'kan 'ngekos di paling ujung. Nggak ada orang yang menempati kamar kos sebelah.”
Aku pun keluar karena penasaran. Belum sempat menengok, ibu kos sudah memanggilku.
“Naya, ada surat buat kamu”
Aku segera mengambil surat itu dan kembali ke kamar kosku. Kubuka surat tersebut dan membaca isinya:
“senang bisa ketemu lagi sama kamu Nay”
“Nggak ada nama pengirimnya, alamatnya juga nggak ada.Aneh”
“kamu juga aneh”
Aku kaget mendengar suara laki-laki itu lagi. Suara yang sedari tadi menggubris pikiran-pikiranku. Aku mencoba meyakinkan diriku lagi “Mana mungkin sih ada suara orang lain, ini nggak masuk akal. Aku kan sendirian dan hanya aku yang bisa berbicara di kepalaku sendiri.”
Untuk sesaat tidak terdengar apa-apa.
“ya, tapi aku juga bisa”
Keesokan harinya, sepucuk surat lainnya tergantung di depan pintuku.
“gimana kalo kita makan diluar malam ini?”
Aku langsung menghampiri ibu kos yang sedang menyapu di halaman.
“Bu, ibu lihat orang yang ngasih surat ini ga Bu? Sepertinya ada yang mau meneror saya bu.”
Ibu kos terlihat kaget.
“masa sih Nay? Orangnya kan tinggal di sebelah kamu”
Aku penasaran dan langsung mengambil sapu yang dipegang Ibu kos. Aku menghampiri kamar kos di sebelah kamar kosku. Aku mengetuk pintunya dengan kasar dan berteriak-teriak.
“Hey! Keluar!”
Tidak ada jawaban. Baru aku ingin mencoba untuk mendobrak pintunya, ada suara yang terdengar tidak asing menyentuh dari belakang.
“Halo Nay.”
Aku menoleh. Aku sangat tidak percaya apa yang kulihat. Aku syok, dan beberapa detik kemudian aku sudah tidak sadarkan diri.
“Sudah baikan, Nay?” suaranya menyapa disaat aku mulai membuka mata.
Air mataku langsung keluar, aku menangis sesunggukan. Jantungku berdetak tidak karuan. Aku ingin mengucapkan kata-kata tetapi yang keluar hanyalah rengekan.
“udah udah cup cup cup. Kamu ga sendiri sekarang, Naya.” Rhino memelukku. Ya, dia Rhino pacarku. Pacarku yang selama ini terperangkap dalam kenangan pahitku. Pacarku, yang menghilang sejak kejadian buruk itu. Pacarku, yang suaranya terdengar dan selalu menggubris pikiran-pikiran di kepalaku beberapa hari terakhir ini. Aku merasa seperti terbang di dalam pelukannya. Seperti diguyur oleh air minum disaat badanku kering kerontang karena dahaga. Seperti dengan mudah mengoyak lapisan kepompong dan dengan bebas terbang seperti kupu-kupu. Seperti pungguk yang mendapatkan bulannya. Kedatangan Rhino yang tiba-tiba mengubah duniaku dalam sekejap. Seakan aku rela menukar semua yang aku punya hanya untuk dapat kembali bersamanya, biarpun, saat ini aku tidak mempunyai apa-apa selain Rhino di sisiku.
Sore itu terlihat lebih cerah daripada biasanya, dengan Rhino di genggaman tanganku. Rhino mengajakku kembali pulang ke kota asalku dan berjanji untuk menemaniku dan membantuku untuk melupakan semua kenangan pahit yang kami alami. Aku tidak pernah melepaskan tangannya dari genggamanku sejak saat kami berangkat pulang. Takut-takut kalau aku hanyalah sekedar bermimpi, aku takut terbangun dan Rhino hilang dari sisiku.
“Tenang aja Nay, aku ga bakalan kemana-mana lagi kali ini.”
Aku berpikir.
“hmm memangnya selama ini kamu kemana saja sih??”
“Nay, aku juga ngalamin yang sama seperti apa yang kamu alamin. Hanya bedanya, aku tetap disana, aku nggak mengasingkan diriku, aku nggak kayak kamu yang pergi menjauh. Aku mengobati kepedihan aku sendiri disana. Terlalu pedih Nay, sampe aku nggak bisa mencerna kata-kata orang lain yang bilang kalau kamu selamat dari kejadian itu. Saat aku benar-benar pulih dan siap untuk ngejalanin hidup aku seperti biasa lagi, aku mulai mencari kamu. Tapi ternyata untuk ketemu sama kamu lebih susah dari yang aku bayangkan. Satu sekolah dan tetangga-tetangga kamu nggak ada yang tahu kamu kemana. Aku coba cari ke kampung halaman kamu, tapi nihil. Aku hampir putus asa Nay, sampai akhirnya pada saat aku memandangi foto kamu di dompetku, waktu aku lagi di terminal, aku ketemu sama seorang nenek baik hati yang bilang kalo kamu tinggal di sekitar sini. Akhirnya aku kesini dan nyari tempat untuk nginep. Satu-satunya ya disini. Dan ternyata siapa sangka jadi mudah sekali untuk ketemu kamu. Kamu tepat berada di sebelahku.”
Butuh waktu yang tidak sedikit untuk mencerna kata-kata Rhino.
“aa-a... Ehm. Jadi kamu yang ngirim surat itu kan? Kenapa harus lewat Ibu kos sih? Kenapa nggak ada nama pengirimnya?"
“itu karna aku nggak mau kamu kaget, setelah apa yang udah kamu alamin. Aku mau ketemu kamu secara pelan-pelan saja.”
Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin aku ajukan ke Rhino. Tetapi hatiku terlalu senang dan aku tidak mau ada yang menggangu kesenanganku saat ini. Jadi aku buang jauh-jauh rasa penasaranku apapun itu. Rhino sekarang ada di sisiku. Aku tidak takut sendirian lagi sekarang. Dan yang paling penting, aku tidak berbicara dengan diriku sendiri lagi. Aku punya teman untuk berbagi. Ah ya, mengenai hal itu.
“Rhino, ada satu hal yang ingin aku tanyain ke kamu.”
“apa?”
“bagaimana caranya kamu bisa dengar dan membalas pikiranku? Padahal kan aku berbicara di dalam hati, di dalam kepalaku sendiri???”
“oh, kalau hal itu cukup aku saja yang tau. Hehehe” Rhino tertawa jahil.
duh! del, lo brilian abis. ahaha. si rhino sialan, pake rahasia-rahasiaan. ahaha. duh, gw juga pengen tinggal dikota kaya gtu deh. huhuhu. penat gw sma pamulang, jakarta, dan orang-orangnya yang sesampahan. hahaha
ReplyDeleteayayayay kata yang sensitif . brilian . hehehe thank you monda :)
ReplyDeleteiya sih , kalo emang ada gw juga mau buat ngelepas suntuk sekali" , jauh dari kebisingan , jauh dari alay . hahahaha