Showing posts with label short story. Show all posts
Showing posts with label short story. Show all posts

short story: mind reader


Aku senang berada di dalam pikiranku sendiri. Berbicara dengan diriku sendiri dari balik benakku, berargumentasi atau berdebat di dalam kepalaku. Selama ini tidak ada yang bisa menyangkal atau tidak setuju dengan apa yang aku ucapkan. Tidak ada yang dapat mengomentari apa yang aku inginkan. Aku bebas disini. Sendirian.
***
Sore yang cerah, aku keluar dari kamar kos untuk menghirup udasra segar sambil berjalan berkeliling. Melewati perempatan jalan yang gersang, pertokoan yang nyaris tutup karena tidak banyak pembeli yang datang dan anak-anak yang sedang bermain futsal di lapangan rumput kecil di sebelah rumah tua. Aku tinggal seorang diri di sebuah kos di satu kota yang jumlah penduduknya bisa dibilang sedikit. Hanya jika cuaca cerah seperti sore ini baru terlihat bahwa daerah ini benar-benar hidup. Tidak ada yang berani melewati jalan raya seorang diri di kotaku jika hari sudah mulai gelap, biarpun itu adalah jalan raya. Karena terkadang jalan raya saja bisa terlihat seperti gang sempit gelap di sebelah kuburan jika sudah malam hari. Tidak banyak orang yang berani keluar rumah apabila hari sudah gelap.
Aku terus berjalan berkeliling. Menikmati suasana kota yang jarang terlihat ramai. Aku melewati sebuah taman dengan ditumbuhi banyak pohon rindang dan kolam ikan yang tidak ada ikannya. Taman ini biasa dipakai oleh para pecinta apalagi jika hari sedang cerah. Mereka keluar dan berkumpul disini untuk melampiaskan cinta dan kerinduan terhadap pasangannya. Kulihat beberapa pasangan yang bercanda mesra, cekikikan, cubit-cubitan, dan ada juga pasangan yang tanpa malu berpelukan erat di balik bayangan kursi taman. Wajar saja, tidak ada yang peduli apa yang mereka lakukan disini. Orang-orang di kota ini sudah terlanjur hidup dalam kesendirian dan keterasingan sehingga mereka tidak perlu repot-repot untuk mengurusi siapa saja yang bukan menyangkut diri mereka sendiri.
Aku mulai berbicara sendiri di kepalaku “Ah, nggak asik. Perusak mood. Sedang bahagianya jalan-jalan malah ketemu pemandangan yang seperti ini. Lebih baik aku cepat-cepat pergi dari sini. Cari pemandangan lain yang lebih seru.”
Kemudian sepanjang jalanku aku melihat seorang nenek yang menggotong belanjaannya yang kelihatannya berat dan beberapa anak kecil yang tertawa meledek di belakangnya.
“Kasihan. Tapi ya sudahlah, bukan urusanku juga. Anak-anak itu seharusnya berhenti tertawa dan lebih baik pulang kerumah, mandi dan tidur.”
Aku terus berjalan sampai akhirnya kembali ke depan kos-ku. Seorang pria muda yang tinggal di seberang kos ku menyapa dengan senyum tengilnya “sudah pulang neng?”
Aku hanya tersenyum kecil yang nyaris tidak terlihat sambil menutup gerbang. “Dia lagi dia lagi. Kenapa sih nggak ada henti-hentinya menggangguku? Kemarin dia 'mejeng' di depan pintu pagar, tadi pagi dia mondar-mandir di depan kos, sekarang baru berani nyapa. Mending enak dilihat, tengil banget sih! Pakai kek tuh baju, boxer doang yang nempel di badan! Ihh”
Sebenarnya jika boleh memilih, aku tidak ingin tinggal di kos yang bertetangga dengan mas-mas genit yang kerjaannya siang malam dihabiskan hanya untuk menggoda gadis-gadis yang lewat. Karena sudah jarang gadis yang lewat disini, maka akulah yang jadi sasarannya. Sungguh sangat tidak menyenangkan. Tapi apa boleh buat, aku butuh ketenangan. Masa laluku di kota besar sangat membuatku stres dan sakit hati. Aku pun pergi mencari tempat tinggal baru yang dapat memberikanku ketenangan dan membantuku melupakan masa laluku yang pahit.
***
Waktu itu aku baru saja merayakan kelulusan SMA bersama teman-temanku, konvoi motor dan mencorat-coret baju seragam dengan pilox. Pacarku juga ada disana. Karena tidak terasa, aku berjalan terlalu lambat dan tertinggal dari teman-temanku jauh di belakang. Mereka pun menungguku di salah satu pom bensin di jalan itu. Tetapi tiba-tiba pom bensin itu meledak. Api berkobar dan terdengar suara ledakan yang sangat kencang. Aku syok dan pingsan di tempat. Saat aku terbangun, aku sudah berada di rumah sakit dengan beberapa guru dan orang tua temanku di sekelilingku, tetapi kulihat tidak ada wajah teman-teman yang ku kenal. Mereka berpelukan, menangis sesunggukan, dan ada yang sampai terkulai lemas di lantai. Aku bingung dan berjalan ke sekitar untuk mencari teman-temanku. Aku melihat mereka tergeletak di satu ruangan dengan kain menutupi badan dan wajah mereka. Teman-temanku yang kusayang, sekarang telah tiada. Aku kalap, menangis sejadi-jadinya dengan nada yang berantakan.
Kejadian itu berlalu begitu cepat. Tidak terasa hanya aku yang selamat. Sejak saat itu berat badanku turun sembilan kilogram dalam waktu hanya dua minggu. Aku berusaha mencari keberadaan pacarku, karena namanya tidak tercantum dimana-mana. Di daftar korban jiwa, ataupun korban luka-luka. Tempat kejadian perkara juga sudah diperiksa dan diteliti, tapi tidak ada korban lain yang ditemukan. Pacarku menghilang.
Lelah karena sudah berjalan-jalan sore tadi, tanpa sadar kenangan masa lalu yang kuingat barusan membuatku mengantuk dan tertidur. Sayup-sayup kudengar suara pintu pagar kos terbuka dan tertutup kembali. Seiring dengan kelopak mataku yang tertutup perlahan.


Tidak banyak yang kukenal di kota ini, tidak seperti saat aku masih tinggal di kota besar. Hampir semua penduduk dalam ruang lingkup satu kecamatan aku kenal. Tapi disini, yang kukenal hanyalah ibu pemilik kos, ibu penjual sayur keliling yang menjadi langganan ibu pemilik kos, penjaga toko minuman di pinggir jalan karena aku suka duduk berlama-lama disana, dan mas-mas tengil yang tinggal di seberang kosku.
Suara tawa ibu kos yang lantang membangunkan tidur nyenyakku. “Aduuuuuhhh ketawanya ga bisa dipelanin sedikit apa yaa? Ganggu orang tidur aja sih.”
“lebih baik bangun, hari sudah siang loh”
Apa? Apa yang barusan tadi? Aku mendengar suara. Seseorang berbicara. Laki-laki. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Aku kan hanya sendiri disini, mana mungkin bisa ada suara orang lain berbicara disini.
Aku pun pergi mandi dan menonton dvd yang kupilih dengan asal.
“diluar cuacanya bagus.”
Suara itu lagi. Mungkin aku sudah gila. Kenangan pahit dari masa laluku ternyata belum sepenuhnya pulih.
Tetapi suara itu masih tetap terdengar. Kali ini suara itu tertawa kecil.
“Semalam aku makan apa sih? Jadi pusing begini deh. Mungkin aku memang sudah benar-benar hilang waras. Baguslah.”
Selesai satu film, aku mencari film lainnya. Saat sedang mengacak-acak koleksi dvdku, aku mendengar suara barang terjatuh di kamar kos sebelah.
“Siapa ya? Aku 'kan 'ngekos di paling ujung. Nggak ada orang yang menempati kamar kos sebelah.”
Aku pun keluar karena penasaran. Belum sempat menengok, ibu kos sudah memanggilku.
“Naya, ada surat buat kamu”
Aku segera mengambil surat itu dan kembali ke kamar kosku. Kubuka surat tersebut dan membaca isinya:
“senang bisa ketemu lagi sama kamu Nay”
“Nggak ada nama pengirimnya, alamatnya juga nggak ada.Aneh”
“kamu juga aneh”
Aku kaget mendengar suara laki-laki itu lagi. Suara yang sedari tadi menggubris pikiran-pikiranku. Aku mencoba meyakinkan diriku lagi “Mana mungkin sih ada suara orang lain, ini nggak masuk akal. Aku kan sendirian dan hanya aku yang bisa berbicara di kepalaku sendiri.”
Untuk sesaat tidak terdengar apa-apa.
“ya, tapi aku juga bisa”

Keesokan harinya, sepucuk surat lainnya tergantung di depan pintuku.
“gimana kalo kita makan diluar malam ini?”
Aku langsung menghampiri ibu kos yang sedang menyapu di halaman.
“Bu, ibu lihat orang yang ngasih surat ini ga Bu? Sepertinya ada yang mau meneror saya bu.”
Ibu kos terlihat kaget.
“masa sih Nay? Orangnya kan tinggal di sebelah kamu”
Aku penasaran dan langsung mengambil sapu yang dipegang Ibu kos. Aku menghampiri kamar kos di sebelah kamar kosku. Aku mengetuk pintunya dengan kasar dan berteriak-teriak.
“Hey! Keluar!”
Tidak ada jawaban. Baru aku ingin mencoba untuk mendobrak pintunya, ada suara yang terdengar tidak asing menyentuh dari belakang.
“Halo Nay.”
Aku menoleh. Aku sangat tidak percaya apa yang kulihat. Aku syok, dan beberapa detik kemudian aku sudah tidak sadarkan diri.

“Sudah baikan, Nay?” suaranya menyapa disaat aku mulai membuka mata.
Air mataku langsung keluar, aku menangis sesunggukan. Jantungku berdetak tidak karuan. Aku ingin mengucapkan kata-kata tetapi yang keluar hanyalah rengekan.
“udah udah cup cup cup. Kamu ga sendiri sekarang, Naya.” Rhino memelukku. Ya, dia Rhino pacarku. Pacarku yang selama ini terperangkap dalam kenangan pahitku. Pacarku, yang menghilang sejak kejadian buruk itu. Pacarku, yang suaranya terdengar dan selalu menggubris pikiran-pikiran di kepalaku beberapa hari terakhir ini. Aku merasa seperti terbang di dalam pelukannya. Seperti diguyur oleh air minum disaat badanku kering kerontang karena dahaga. Seperti dengan mudah mengoyak lapisan kepompong dan dengan bebas terbang seperti kupu-kupu. Seperti pungguk yang mendapatkan bulannya. Kedatangan Rhino yang tiba-tiba mengubah duniaku dalam sekejap. Seakan aku rela menukar semua yang aku punya hanya untuk dapat kembali bersamanya, biarpun, saat ini aku tidak mempunyai apa-apa selain Rhino di sisiku.
Sore itu terlihat lebih cerah daripada biasanya, dengan Rhino di genggaman tanganku. Rhino mengajakku kembali pulang ke kota asalku dan berjanji untuk menemaniku dan membantuku untuk melupakan semua kenangan pahit yang kami alami. Aku tidak pernah melepaskan tangannya dari genggamanku sejak saat kami berangkat pulang. Takut-takut kalau aku hanyalah sekedar bermimpi, aku takut terbangun dan Rhino hilang dari sisiku.
“Tenang aja Nay, aku ga bakalan kemana-mana lagi kali ini.”
Aku berpikir.
“hmm memangnya selama ini kamu kemana saja sih??”
“Nay, aku juga ngalamin yang sama seperti apa yang kamu alamin. Hanya bedanya, aku tetap disana, aku nggak mengasingkan diriku, aku nggak kayak kamu yang pergi menjauh. Aku mengobati kepedihan aku sendiri disana. Terlalu pedih Nay, sampe aku nggak bisa mencerna kata-kata orang lain yang bilang kalau kamu selamat dari kejadian itu. Saat aku benar-benar pulih dan siap untuk ngejalanin hidup aku seperti biasa lagi, aku mulai mencari kamu. Tapi ternyata untuk ketemu sama kamu lebih susah dari yang aku bayangkan. Satu sekolah dan tetangga-tetangga kamu nggak ada yang tahu kamu kemana. Aku coba cari ke kampung halaman kamu, tapi nihil. Aku hampir putus asa Nay, sampai akhirnya pada saat aku memandangi foto kamu di dompetku, waktu aku lagi di terminal, aku ketemu sama seorang nenek baik hati yang bilang kalo kamu tinggal di sekitar sini. Akhirnya aku kesini dan nyari tempat untuk nginep. Satu-satunya ya disini. Dan ternyata siapa sangka jadi mudah sekali untuk ketemu kamu. Kamu tepat berada di sebelahku.”
Butuh waktu yang tidak sedikit untuk mencerna kata-kata Rhino.
“aa-a... Ehm. Jadi kamu yang ngirim surat itu kan? Kenapa harus lewat Ibu kos sih? Kenapa nggak ada nama pengirimnya?"
“itu karna aku nggak mau kamu kaget, setelah apa yang udah kamu alamin. Aku mau ketemu kamu secara pelan-pelan saja.”
Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin aku ajukan ke Rhino. Tetapi hatiku terlalu senang dan aku tidak mau ada yang menggangu kesenanganku saat ini. Jadi aku buang jauh-jauh rasa penasaranku apapun itu. Rhino sekarang ada di sisiku. Aku tidak takut sendirian lagi sekarang. Dan yang paling penting, aku tidak berbicara dengan diriku sendiri lagi. Aku punya teman untuk berbagi. Ah ya, mengenai hal itu.
“Rhino, ada satu hal yang ingin aku tanyain ke kamu.”
“apa?”
“bagaimana caranya kamu bisa dengar dan membalas pikiranku? Padahal kan aku berbicara di dalam hati, di dalam kepalaku sendiri???”
“oh, kalau hal itu cukup aku saja yang tau. Hehehe” Rhino tertawa jahil.

short story: temanku cintaku

“Aku masih sulit untuk percaya kalau orang yang ada di pelukanku sekarang ini adalah kamu, sahabatku sendiri”, Galih mengatakannya dengan sedikit tertawa getir.

“Sama. Aku juga nggak pernah kepikiran dan nggak nyangka banget kalau kedekatan kita selama dua tahun ini bisa berujung menjadi seperti ini...”

Malam itu kurasakan pelukannya yang hangat seperti pada malam pertama dia memelukku....


Saat itu kami yang baru saja saling berterus terang atas perasaan kami, duduk di teras depan rumahku. Memang terasa lega dan bahagia, namun dibalik itu semua ada perasaan menyesal dan bersedih karena tidak seharusnya hal tersebut yang kami ucapkan.

Malam itu adalah malam pertama kalinya Galih menggenggam tanganku. Sebenarnya kami pernah bergenggaman tangan, hanya saja tidak lebih dari genggaman tangan dua orang teman dekat. Dia membantuku turun dari tembok sekolah yang kami panjat bersama untuk kabur setahun yang lalu. Namun malam itu sungguh berbeda. Genggaman tangannya menunjukkan bahwa kami berdua kini lebih dari sekedar teman dekat. Terdapat kenyamanan dan kasih sayang diantara kami.

“Jangan seperti ini, nanti aku bakalan lebih sulit lagi untuk melepas kamu....” ucapku.

Aku tahu dia mendengarnya, tapi dia malah menggenggam tanganku lebih erat lagi.

“Aku sayang sama kamu, Ndre..” dia mengatakannya dengan raut sedih di wajahnya.

“Iya…”, aku tidak bisa berkata lebih banyak lagi. Kata-kata cinta malah akan membuat hatiku lebih tersayat-sayat nantinya. Biarpun kami menjalin hubungan spesial tanpa status ini baru berjalan tiga hari, namun kedekatan yang kami bina selama dua tahun belakangan ini sudah menjalin ikatan perasaan yang cukup kuat diantara kami. Waktu selama itu cukup untuk mengenal pribadi kami masing-masing dan menumbuhkan perasaan cinta diantara kami berdua.

“mungkin memang salahku, menginginkanmu disaat kamu sudah ada yang memiliki....” Galih mendengarnya dengan tatapan sedih terpancar dari matanya.

“jangan salahin diri kamu sendiri, Andrea sayang. Ini bukan salah kamu. Kita nggak bisa nyalahin perasaan kita yang seperti ini. Mungkin kalau harus ada yang disalahkan, orang itu seharusnya aku, karena aku yang sudah menarik kamu dikehidupanku yang bisa dibilang nggak sendiri lagi. Tapi perasaan aku ini nggak bisa dibohongin Ndre, aku benar-benar mencintai kamu, bahkan lebih dari dia.” Galih mengatakannya sambil meletakkan telunjuknya di bibirku.


Seminggu pun berlalu, dan kami masih menjalani hari-hari seperti sudah terjadwal. Pagi hari Galih menunggui kekasihnya datang ke sekolah. Jam istirahat, Galih pun menghabiskannya dengan kekasihnya itu. Siang dan sore hari, masih bersama kekasihnya untuk mengikuti bimbingan belajar atau kegiatan lain. Baru pada saat malam hari, dia memberikan sisa waktunya untukku. Entah itu adalah waktu dimana aku baru bisa berhubungan dengannya melalui pesan singkat dan telepon, atau terkadang dia menyempatkan diri untuk datang ke rumahku. Malam itu dia bilang padaku lewat pesan singkat bahwa ia merasa lelah dan letih menjalani kesibukannya seharian tadi, maka aku menyuruhnya untuk langsung pulang dan tidur. Dan jawaban yang aku terima seperti ini:

“lihat keluar deh, bintangnya bagus.”

Maka aku pun terkekeh sedikit. Masih sempat-sempatnya dia memperhatikan bintang-bintang disaat badan sudah tak sanggup untuk bergerak lagi. Penasaran, aku pun keluar rumah untuk melihat langit. Kecewanya aku, ternyata langit sama sekali tidak terlihat cerah dari rumahku. Tetapi, ada pancaran kebahagiaan lain di depan pagar rumahku. Galih ternyata sudah berdiri disana.


Setelah bercakap-cakap sedikit, akhirnya dia masuk ke pokok pembicaraan, sebuah alasan yang membawanya datang kesini, padahal seharusnya ia sudah beristirahat dirumah.

“Kita nggak bisa dan boleh seperti gini terus..” suaranya terdengar parau.

“…. Aku tahu.... Jadi kapan kita akan berakhir dari situasi seperti ini?”

“Secepatnya….” pancaran mata Galih terlihat kosong.

“Sekarang?” jantungku berdebar kencang, suaraku bergetar karna ketakutan.

“Tapi aku belum siap untuk kehilangan kamu” Galih mengatakannya secepat kilat.

“Kamu harus kuat. Demi aku, demi kamu juga. Demi kita.” Air mataku sudah hampir tumpah dari balik pelupuk mataku. Topeng munafik pun terlihat sudah di wajahku.

Galih menarikku ke dalam pelukannya. Kudengar hembusan nafas panjang dari hidung dan mulutnya berkali-kali.

“I love you, Andrea....” dan dia memelukku semakin erat.



Keesokan harinya, kami hanya melemparkan senyum saat bertemu pandang. Memang seperti hari-hari sebelumnya, kami tidak pernah bisa melampiaskan rasa sayang kami di depan orang lain. Namun kali ini perasaan itu terasa semakin kuat, seakan-akan ada yang ingin mengoyak tubuhku dari dalam. Perasaan seperti tertahan dan tertekan. Aku sangat tidak menyukai perasaan seperti itu. Aku pun cepat-cepat berjalan menjauhinya. Hatiku semakin sakit jika terus berada di sekitarnya tanpa bisa memilikinya ataupun hanya untuk mendekatinya.

Satu minggu telah berlalu. Kami dipertemukan lagi di sebuah acara sekolah. Sebuah kebetulan, kami bertemu di ruang dibelakang panggung dimana tidak ada orang lain selain aku dan Galih. Tubuhku kaku seketika, tidak tahu apa yang harus ku perbuat. Aku ragu untuk menyapa, tetapi sudah terlanjur terlihat olehnya. Tenggorokanku tercekat tidak bisa mengeluarkan sepercik kata pun, sampai kulihat dia berlari dan memelukku.

“Ga-galih..! k-kalo ada yang liat gimm-mana??”

“Aku nggak bisa Ndre, aku nggak bisa jauh dari kamu....”

“Stop, Galih.” Aku melepaskan diri dari pelukannya. Beruntung tidak ada yang melihat. Suasana pun hening.

“Kamu harus coba, Galih, kita harus coba. Ini belum seberapa kan? Ayo Galih, aku tau kamu bisa....” aku pun pergi meninggalkannya dan berbaur dengan teman-temanku.



Sepulangnya aku di rumah, aku mendapati pesan singkat dari Galih yang berisi:

“Maaf, karena aku sudah menarik kamu masuk kedalam hidupku dan membebani kamu. Maaf kalau aku selalu menyusahkan kamu. Maaf atas perbuatanku yang selalu bodoh dan nggak bertanggung jawab. Dan terimakasih, atas waktu yang sudah kamu berikan untukku. Terima kasih atas perhatian kamu selama ini. Makasih karena kamu sudah tulus buat sayang sama aku, biarpun kamu tahu aku sudah ada yang memiliki... Kalau boleh aku memohon, tetap jadi Andrea yang kukenal ya. Aku sayang kamu, Andrea. Sincerely, Galih”

Sontak aku berteriak-teriak sambil mengeluarkan air mata. Kututupi wajahku dengan bantal agar teriakanku tidak terdengar oleh keluargaku dan tetanggaku. Perasaanku carut marut. Aku berteriak terus, tanpa ada sepatah kata yang terucap. Hanya teriakan.

Saat teriakanku mereda, aku pun sesunggukan dalam tangisan.

“Bukan hanya kamu yang sakit, Galih, bukan hanya kamu yang ingin terus bersama, Galih, bukan hanya kamu yang harus menderita karna harus menahan perasaan, Galih, bukan hanya kamu… Aku disini juga merasakan yang sama, aku sungguh-sungguh sayang sama kamu. Aku mau kamu. Aku nggak mau berpisah dari kamu. Aku tersiksa menahan perasaan ini, Galih. Tapi mungkin memang ini jalan yang harus kita lalui, jalan yang terbaik. Aku harus merelakan orang yang aku sayangi.…”

“Maafku juga untukmu. Terimakasihku juga lebih lagi. Kamu baik-baik ya sama dia.... I love you too, as friend....”

Setelah pesanku terkirim, aku langsung menonaktifkan ponselku dan membenamkan wajahku dalam-dalam ke bantal. Aku bersiap untuk hari esok, hari-hari baru yang akan kulalui. Ya, aku akan memperbarui semuanya, memulainya dari awal lagi.



***
Tidak terasa bertahun-tahun telah berlalu. Aku menarik nafas dalam-dalam, merasakannya melewati tenggorokanku, masuk ke paru-paruku dan menghembuskannya keluar dari hidung dengan perlahan. Sebuah perasaan lega yang kusadari sudah lama tidak aku rasakan dalam beberapa tahun terakhir.

Kubuka kembali album foto milikku. Terpasang foto diriku dan teman-temanku sedang mengenakan kebaya dan memegang medali kelulusan dari sekolah. Dibawah foto itu terpasang juga foto temanku yang sedang menangis sambil memelukku. Aku tertawa kecil melihatnya. Di halaman sebelahnya terdapat halaman album yang masih kosong. Aku merogoh isi tasku dan mengambil selembar foto disana, kemudian kupasang foto tersebut. Sebuah kenangan, seorang gadis remaja yang baru masuk sekolah, dengan menggunakan seragam, sedang tertawa lepas di rangkulan seorang remaja laki-laki yang sebaya dengannya. Laki-laki tersebut juga mengenakan seragam sekolah sebagai murid baru. Aku tersenyum memandanginya. Teringat sungguh banyak hal yang sudah terjadi selama tiga tahun terakhir masa SMA-ku, terutama di tahun ketiga, sangatlah berkesan.

Semenjak saat itu Galih sedikit menjauh dariku. Dia terlihat lebih mendekatkan diri dengan pacarnya, melampiaskan seluruh waktunya untuk kekasihnya. Aku pun juga menyibukkan diriku dengan belajar dan mempersiapkan diri untuk masuk ke perguruan tinggi. Tidak sia-sia, aku pun mendapatkan beasiswa untuk belajar di luar negeri. Dan saat ini, aku sedang berada di pesawat untuk kembali ke rumahku dalam masa liburan kuliahku. Memang, ada rasa sedih yang kurasakan, kehilangan seorang teman dekat yang sangat berarti untukku. Namun aku juga merasa lega, karena setelah setahun ini aku pun akhirnya bisa menganggapnya tidak lebih dari teman dekat biasa saja, seperti kami saat sedia kala. Sesampainya di bandara, senyumku semakin mengembang lagi disaat ponselku bergetar, meninggalkan pesan singkat di layarku.

“hei sobat lama! Apakabar? Gimana kalau aku kasih tumpangan gratis, dengan bayaran cerita seru yang harus kamu ceritakan ke aku di rumah nanti?”

Aku menoleh ke sekelilingku, dan mendapati teman lamaku berdiri dan melambaikan tangan dari balik pintu kaca. Galih. Dia tersenyum. Hatiku tidak mau kalah, aku merasa sangat gembira karena sampai sekarang kami masih bisa menjalin hubungan baik sebagai teman, dan selamanya akan selalu menjadi teman.